Search This Blog

Minggu, 10 Agustus 2008

Merawat Militansi

Militansi adalah komitmen, hamasah dan tadhiyah di dalam dakwah. Allah Swt berfirman :

“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (Q.S Al-Anfal (8): 64-65)

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." " (Q.S Al-Baqarah (2): 249-250)

Syarat-syarat mendapatkan militansi:

v Memahami kebenaran hanya milik Allah Swt

v Kesabaran

Kekuatan pemenangan di dalam dakwah bukan hanya kualitas dan kuantitas kekuatan secara keduniaan (peralatan, kader, strategi dan lain sebagainya) tetapi lebih bertumpu pada “Biiznillah” inilah yang disebut dengan Nasrumminallah (Pertolongan dari Allah Swt.

Ketegaran dan militansi dalam dakwah seimbang dengan tingkat pemahaman dan kesabaran. Kesabaran ini lebih berfungsi untuk meningkatkan kekuatan ketika menghadapi beban-beban dakwah.

Cara merawat militansi:

v Meningkatkan ilmu dan pemahaman (bisa kita saksikan pada para kisah sahabat dan salafussalih bagaimana tekad mereka untuk meningkatkan pemahaman keagamaannya)

v Meningkatkan keimanan

v Menghindari maksiat dan dosa besar (Allah akan menunda kemenangan walaupun usaha kita sudah maksimal, karena ada sebagian dari aktivis dakwah yang bermaksiat)

Peran kita sebagai aktivis dakwah, apalagi dalam posisi sebagai qiyadah dan Murabbi harus mampu mengobarkan semangat para junud dan Mutarabbi kita sehingga walaupun mereka merasa berat untuk melaksanakan beban dakwah, dengan motivasi dari kita mereka akan bersemangat dalam melaksanakan amanah tersebut. Karena saat kita berada sekarang ini adalah masa transisi yang kadangkala kita harus bekerja over cavacity.

Kisah perang Badar dapat kita ambil sebagai pelajaran semula ada keberatan, namun Rasulullah berhasil meningkatkan semangat para sahabat untuk beperang dan biiznillah Allah Swt memberikan kemenangan.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna:” Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia.”

(Bangkinang, 09 Agustus 2008, Sabtu, 10:03 WIB)

Tidak ada komentar: