Search This Blog

Minggu, 13 Juli 2008

Hidayah


“orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, Allah menghapus segala amal mereka. Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebaikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari tuhan mereka; Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Q.S Muhammad (47) : 1-2)

“Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, yaitu diantara orang-orang yang telah diberikan kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik) dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S Al Maidah (5) : 57)

hidayah pada sisi Allah itu kadarnya tetap dan tidak berubah. Namun penerimaan kita terhadap hidyah itulah yang membuat hidayah kita terima kadarnya sesuai dengan kekuatan yang dominan yang ada dalam diri kita. Pada surat Al Maidah ayat 57 ini tersirat pada kita bahwa bukan tidak mungkin seorang muslim akan menjadi murtad. Maka hidayah perlu kita pupuk dan lestarikan. Indhibat dalam tarbiyah Dzatiyah adalah salah satu usaha memupuk dan melestarikan Hidayah.

Hidayah itu akan diberikan ketika kita mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga karena itulah orang yang berputus asa lalu bunuh diri sangat dimurkai oleh Allah Swt. Di lapangan dakwah terkadang ada anggapan uyang berbeda dalam memahami aktivitas dakwah. Bahkan terkadang secara nilai-nilai Islami itu sudah keliru. Komitmen kita dalam dakwah adalah komitmen syariah, bukan pada senioritas. Komitmen kita adalah kepada system dan manhaj bukan semata bertumpu kepada individu yang ada di dalamnya.

Keluasan dakwah ini nantinya akan membuat kita objektif memandang masalah. Kita memandang masalah berdasarkan latarbelakang masalah bukan pada latarbelakang orangnya.

Dalam aktivitas amal jamai diperlukan adanya lapangdada. Karena banyak sekali masalah inshilah dalam suatu jamaah dakwah bukan karena masalah sistemnya tetapi lebih kepada terganggunya hubungan personal dan anter personal dalam aktivitas dakwah sesama aktivis dakwah.

Dari sinilah nantinya orang-orang kafir dan orang-orang yang tidka suka pada dawkah ini akan menyulut api kebencian dan perpecahan antara sesama aktivis dakwah seperti yang dijelaskan dlam surat Muhammad diatas.

Kalau komitmen kita kepada syariah akan mejaga dan melestarikan hidayah yang telah diberikan oelah Allah. Sehingga nanti Allah sendiri yang akan memperbaiki diri kita. Sehingga dapat kita simpulkan komitmen syariah itu sangat penting dalam menjaga hudayah dan keikhlasan kita dalam berdakwah

(Pekanbaru, kamar kostku, 12 Juli 2008 15:00 WIB)

Pemahaman Dakwah

Pertemuan dengan Rasulullah hanya akan dapat terjadi kalau kita betul-betul mencintai beliau. Hal ini merupakan kesempatan yang sangat langka. Kita lihat juga Ulama-ulama Klasik dan Kontemporer hapal Alquran mulai dari usia kanak-kanak. Saya Berkeyakinan ada hubungan yang sangat erat antara pemahaman aqidah dengan hapalnya mereka Alquran pada masa kanak-kanak. Saat sekarang ini saya belum mendapatkan penelitian yang baik dan sistematis tentang hubungan kesalehan dan kecerdasan bedasarkan konsep penghapalan Al Quran di mulai dari masa kanak-kanak.

Penelitian ini bisa dilakukan dengan mengadakan pengamatan yang intensif terhadap seorang anak yang memang didik dengan Al Quran. Sampai pada waktu umur tertentu dilihat perkembangan kepribadian dan kecerdasannya. Mungkin nanti kita dapat melakukan penelitian kita terhadap anak-anak kita sendiri Insya Allah.

Saat sekarang ini diperlukan inisiatif dari para kader untuk proaktif melakukan suatu amal. Kisah-kisah yang dapat kita teladani dari Imam Syahid Hasan Al Banna antara lain adalah kemampuan beliau untuk mencari tema-tema yang bisa mendekatkan semua orang.

Memasuki dakwah dalam tahapan politik (Mihwar Muassasi) kita akan berhadapan dengan orang-orang yang akan siap menumbangkan dakwah kita ini. Mereka adalah musuh Allah, musuh Islam dan musuh kita sendiri. Mereka itu adalah tiga golongan yang telah kita ketahui bersama yaitu : Atheis, Musyrik dan Munafik. Maka kita harus menyiapkan perangkat-perangkat kekuatan dalam rangka menyongsong era pengelolaan kekuasaan negara (Mihwar Dauli).

Sehingga para pendahulu dakwah ini menegaskan kepada kita. Semakin berkembang suatu jamaah dakwah maka proses seleksi harus semakin di perketat. Demikian juga dengan kecerdasan dalam menentukan tema-tema dakwah yang bisa mendekatkan kita dengan objek dakwah. Karena kita akan bersingggungan dengan semua tipe pola pikir manusia. Selain itu yang kita butuhkan adalah kecerdasan mengelola perubahan dan kekuatan perencanaan.

(Pekanbaru, Kamar Kostku, 13 Juli 2008 17:08 WIB)